Perempuan Berkalung Sorban

Bulan ini penikmat film Indonesia kembali disuguhi tontonan menarik, apik, dan bermutu. Alhamdulillah, saya berkesempatan menontonnya di Royal 21 Surabaya. Perempuan Berkalung Sorban. Ini adalah sebuah kisah pengorbanan seorang perempuan, Seorang anak kyai Salafiah sekaligus seorang ibu dan isteri. Anissa (Revalina S Temat), seorang perempuan dengan pendirian kuat, cantik dan cerdas. Anissa hidup dalam lingkungan keluarga kyai di pesantren Salafiah putri Al Huda, Jawa Timur yang konservatif. Baginya ilmu sejati dan benar hanyalah Qur’an, Hadist dan Sunnah. Buku modern dianggap menyimpang

Kisah diawali adegan latar belakang 10 tahun lalu dimana Anissa, sang gadis kecil yang doyan naik kuda sambil berkalung sorban digambarkan sebagai gadis pemberontak yang ingin duduk sama tinggi dengan laki-laki. Kalau laki-laki boleh naik kuda, kenapa wanita tidak?

Hanya seorang laki-laki di lingkungan pesantren yang bisa memahami hati Anissa, dialah Khudori (Oka Antara) yang digambarkan sebagai kerabat jauh Anissa. Selisih umur yang jauh dan kekerabatan inilah yang membuat Khudori sulit mengungkapkan cintanya pada Anissa. Apalagi ayah Anissa, yang kebetulan seorang Kiai pemilik pesantren, sangat mendambakan Anissa menikah dengan lelaki anak (sesama) Kiai dan bukan lelaki biasa-biasa saja. Keinginan ayah Anissa rupanya tak lebih dari sebuah ambisi untuk mengangkat citra Pesantren di mata masyarakat. Pondok bisa menjadi besar dan berkembang.

Hal ini pulalah yang makin membuat Khudori tidak bisa bertindak apa-apa. Dia tahu, cintanya pasti disambut Anissa, tapi tidak akan pernah disambut oleh ayah Anissa.

Sikap diam inilah yang makin membuat Anissa kehilangan harapan dan akhirnya harus menurut perintah ayahnya untuk menikah dengan lelaki pilihan ayahnya, seorang anak Kiai dari pesantren lain.

Janji ayah Anissa untuk mengijinkan sekolah setelah menikah ternyata hanya menjadi angin lalu saja. Anissa menjadi budak suaminya dan tidak pernah punya kesempatan untuk sekolah.

Cerita makin seru ketika suami Anissa ternyata menikah lagi dan makin menelantarkan Anissa. Rasanya sudah habis kesabaran Anissa, tetapi nasib belum berpihak padanya. Sampai akhirnya Nisa bertemu lagi dengan Khudori yang sudah lulus dari Kairo. Api cinta yang memang tidak pernah padam itu kembali membara, bahkan demikian membaranya sampai Anissa rela dizinahi oleh Khudori. Tentu Khudori tak mau melakukan perbuatan itu.

Kisah semakin seru dan semakin menegangkan, sehingga harus nonton sendiri di bioskop. Gak seru kalau cuma baca di blog ini.

Saya sendiri belum tahu apakah adegan dalam film itu benar-benar menggambarkan pesantren yang ada di Jombang atau hanya rekayasa film saja, sehingga menimbulkan kesan dominannya laki-laki atas wanita. Walaupun saya berangkat ngeblog dari lingkungan pesantren tapi tetaplah dianggap sebagai seorang tamu yang tidak sepenuhnya menjalankan aturan-aturan di Pondok. Di Pesantren yang sering saya singgahi seperti di Al Hikmah sangat berbeda dengan apa yang digambarkan di Film. Atau mungkin soal generasi dan orde yang berbeda. Di film terjadi pembakaran terhadap buku-buku dari luar, terutama bukunya Pramoedya Ananta Toer yang saat itu dilarang oleh Orde Baru. Sedang di Alhikmah, jangankan buku modern masuk, santri sudah bebas berinternet kapan dan kemana saja suka.

Geografis Pesantren di Jombang juga saya ragukan (atau mungkin saya kurang teliti). Disisi mana Jombang terdapat pantai. Seingat saya sebelah utara Jombang berbatasan dengan Lamongan, kemudian Kertosono, sebelah Timur adalah Mojokerto. Adapun bagian selatan berbatasan dengan Pujon, akses satu-satunya menuju Malang yang merupakan pegunungan. Jauh dari kesan pantai sebagaimana di Film.

Baiklah, itu soal setback saja. Tak penting bagi saya. Yang penting kekuatan tema yang diusung. Saat menonton film ini saya terbawa dengan dialog-dialog padat penuh wacana, membuat saya harus berpikir cepat walau mengalir. Ini mungkin yang membuat setiap konflik bathin dan adegan yang sebenarnya mengharukan tak mampu membuat saya berurai air mata. (Padahal benar-benar membuat hati miris dan sedih. ini berbeda dengan Laskar Pelangi. Walau dalam tak begitu banyak wacana yang diberikan. Tapi dalamnya makna hidup yang diadegankan membuat saya sempat berurai air mata di beberapa adegan film Laskar Pelangi. ).

Film ini juga terbilang cukup berani dalam menarik pasar. Sebagaimana kita ketahui tema idealis jarang mendapat tempat dalam hati Produser, takut tak laku. Sehingga jangan heran jika arus tontonan di Indonesia tetap banjir dengan tema-tema percintaan dan demit. Kalaupun di Film ini ada kejadian intim, ajakan berzina hingga suara-suara rintihan dan desahan seorang wanita tetaplah tidak beraroma percintaan. Adegan tersebut tak lebih hanya menggambarkan bagaimana suasana kekerasan dari akibat dominasinya Laki-laki terhadap kaum perempuan (istri). Jika fragment ini dipotong film bakal kehilangan esensinya.

Terlepas dari bobot tema film. Sutradara juga membumbui adegan-adegan lucu buat penyegar. Hiruk pikuk suasana pasar tempo 80an digambarkan cukup apik. Lalu lalang mobil yang mengiklankan judul film yang akan diputar diBiskop setempat terlihat sangat ndesoni, pas dengan waktu dan kondisi saat itu. Apalagi film yang diiklankan adalah Saur Sepuh, dengan Raden Bentar, Lasmini sebagai lakonnya. Sontak membuat pengunjung ketawa. (Yang tertawa pasti pernah mengalami masa tersebut.) Kemudian ungkapan kental kata “jancuk” khas surabaya, dan “Prekk” khas Jombang yang sangat mantap bikin penonton terpingkal-pingkal juga. Yang paling lucu dan unik adalah ikut perannya sutradara Hanung jadi Pegawai di Kantor Pos desa. Walau cuma figuran, beberapa detik. Namun justru karena itu saya jadi kaget. Antik gitu loh… ha ha ha. Selamat menonton dan mentelengi.

Hidup film Indonesia

Print Friendly, PDF & Email

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

Site Footer