2 Mei 2009

Kisah Sang Pembebas yang Gagal

"Mas....kita g bisa OL sering coz lab lg pindah,so.......kmngknan untuk ng'edit berita ga bsa secepatnya.
Sebaris email yang saya terima dari seorang anggota redaksi aktif malhikdua school, menggambarkan bagaimana waktu internet sekarang menjadi kian sempit, sampai-sampai untuk mengetikpun tidak bisa banyak-banyak, cukup sebaris seperlunya sebagaimana diatas. Sebagai instruktur saya sangat memahami juga makna 1 baris tersebut, dimana beberapa bulan yang lalu sudah terkirakan hal ini akan terjadi. Tentang bakal tutup usianya kegiatan malhikdua jika terjadi perpindahan Lab.

Begitulah, setelah beberapa bulan / waktu lalu terjadi pemangkasan waktu internet sekarang penderitaan mereka semakin bertambah, nafas mereka semakin terengah setelah Lab Internet pindah ke blok putra. Sungguhpun beberapa pejabat tidak menggolongkannya ke dalam area putra namun dalam kenyataan tetap membuat redaksi/blogger jeper, ini belum ditambah posisi lab yang jauh di ufuk, membayangkan saja sudah bikin mereka kecapaian.

Dulu, beberapa waktu saat internet malam hari dilarang, saya terinspirasi Onno W. Purbo yang sukses memerdekakan frekwensi 2,5 G untuk internet dengan melakukan konsolidasi internal di Lab. Esoknya, di hari Jumat, berlagak Bung Karno sang pembebas, saya mengajak seluruh blogger untuk berdemo. Tentunya tidak dengan aksi di jalan maupun di lorong-lorong pondok, cukup dengan ngeblog memanfaatkan blogsphere blogmalhikdua. Saya yakin dengan cara ini, ngeblog rame-rame dengan satu tema, akan mampu merubah kebijakan Pondok, seperti yang dituahkan Enda Nasution, presiden blogger Indonesia bahwa blogger harus bersatu agar menjadi kekuatan yang diperhitungkan.

Tapi dasar, saya tetap hamba tengil, jauh dari prestasi tokoh-tokoh diatas. Punya tekad baja tapi gak ditunjang pikiran cerdas, bagai panglima perang yang tak memahami medan laga. Dalam aksi penggalangan blogspere blogmalhikdua hanya hasil nihil yang didapat. Kemana 200an blogger itu, koq selama berminggu-minggu, bulan ganti bulan gak ada pergerakan posting di agregator. Saya beranikan tanya salah satu dan dijawab polos "Postingnya pake apa mas, kan malam udah gak boleh internetan.. "

Dierr. Saya malu, lari, dan sembunyi.

Print Friendly, PDF & Email

Leave a Reply

13 tanggapan untuk “Kisah Sang Pembebas yang Gagal”

  1. saif berkata:

    ya Allah jika maksud dan tujuan mas novi baik limpahkanlah keredloan - Mu,,berikan kemudahan,semangat juang yang tinggi serta cukup bekal ilmu...amien...HAMASAH..........!!!

  2. saif berkata:

    "HARAPAN ITU mASIH ADA" LANJUTKAN mAS.....saya dukung penuh....!!! BrAvO bLogGers MalHikDu@.......

  3. endar berkata:

    teruslah berjuang sahabatku doaku menyertaimu

  4. xkh berkata:

    coz? thats my girl!
    jd skarang dah d tutup ya? trus gmana klanjutan kisah cintaku? *siap2 cari baygon*

  5. Ulfa berkata:

    Tak akan pernah ada kata gagal dalam cerita sang pembebas. Ku yakin itu. Sementara ku coba mencari celah. Semoga IA memberi jalan. (http://robiah.malhikdua.com/2009/03/09/keberhasilan-vs-kegagalan/)

  6. 4ever berkata:

    sabar ya...suatu hari allah akan mengabulkan doa mas novy

  7. 49oe5 berkata:

    Dimana ada kesulitan .......... disitu ada jalan........... mas
    Walupun jalannya sempit dan berlubang.
    Abah pernah menyampaikan, akan membuat lab. Internet integral semua sekolah... biar bisa untuk keperluan santri. "Internet SEHAT".
    Tapi entah kapan ya ? ..

  8. sawali tuhusetya berkata:

    ayo, tetep semangat mas novi. ajak para bloger pondok utk mengangkat topik yang sama. kenapa akses internet kok dilarang? kan lebih banyak positifnya? apalagi kalau butuh kerja ber-deadline. kalau perlu bikin milis khusus utk sebagai media penekan.

  9. marsudiyanto berkata:

    Kalau saya punya kabel panjang, maka akan saya sambung koneksi saya ke tempat Mas Novi...

  10. Andy MSE berkata:

    @pak marsudiyanto: laptopnya sekalian dipinjamkan pak! anak-anak malhikdua itu biasanya pake komputer ya di lab, enggak di kamar masing-masing pakai laptop, hehehe

  11. Xitalho berkata:

    Semoga ada titik terang... kadang-kadang "Kebebasan" memang mahal harganya.

    Met kenal mas...

  12. Uun berkata:

    Em, ada banyak jalan menuju roma. tapi bukan rhoma irama atau pun ridho roma...heheh... Kalau memanjangkan kabel LAN 1 aja dari gedung baru ke gedung putri area..(mosok yo ho to ga ada ruang tersisa setitik) tak kiro mung cukup sekitar 100 meter luwih titik...opo malah kurang yo? (ono sing meh nyumbang?))) hihi jadi inget Harga Diri. btw..Usulku jeh kanggo rak yo?

  13. Uun berkata:

    Semangat Cak! I'm proud of U doing all this for malhikdua. Sincerely...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

13 comments on “Kisah Sang Pembebas yang Gagal”

  1. ya Allah jika maksud dan tujuan mas novi baik limpahkanlah keredloan - Mu,,berikan kemudahan,semangat juang yang tinggi serta cukup bekal ilmu...amien...HAMASAH..........!!!

  2. Dimana ada kesulitan .......... disitu ada jalan........... mas
    Walupun jalannya sempit dan berlubang.
    Abah pernah menyampaikan, akan membuat lab. Internet integral semua sekolah... biar bisa untuk keperluan santri. "Internet SEHAT".
    Tapi entah kapan ya ? ..

  3. ayo, tetep semangat mas novi. ajak para bloger pondok utk mengangkat topik yang sama. kenapa akses internet kok dilarang? kan lebih banyak positifnya? apalagi kalau butuh kerja ber-deadline. kalau perlu bikin milis khusus utk sebagai media penekan.

  4. @pak marsudiyanto: laptopnya sekalian dipinjamkan pak! anak-anak malhikdua itu biasanya pake komputer ya di lab, enggak di kamar masing-masing pakai laptop, hehehe

  5. Em, ada banyak jalan menuju roma. tapi bukan rhoma irama atau pun ridho roma...heheh... Kalau memanjangkan kabel LAN 1 aja dari gedung baru ke gedung putri area..(mosok yo ho to ga ada ruang tersisa setitik) tak kiro mung cukup sekitar 100 meter luwih titik...opo malah kurang yo? (ono sing meh nyumbang?))) hihi jadi inget Harga Diri. btw..Usulku jeh kanggo rak yo?

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paruh Baya

Aktif di kegiatan tulis menulis dan membaca sejak kelas 1 SD kala sang Guru dengan lantang memanggil. Lantas berdiri ke depan, menghadap papan tulis hitam. Dengan tatapan kosong, keringat dingin, tangan penuh gemetar, memegang penggaris panjang, hingga mengeja satu demi satu susunan huruf. "Ini ibu budi"

Ternyata "bapak budi"
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram