(062) 999-88881212
support(-di-)m2net.asia

1 April 2009

Diklat Jurnalistik, antara Capek dan Puas

Capek dan Puas. Dua kata yang telah mengisi hari-hari terakhir saya. Capeknya karena acara yang digodok-godok sejak jauh bulan ahirnya terselenggara juga. Bahkan lebih dulu dari usaha mendatangkan Ardyansah, blogger Siluman produk Tugupahlawan.com. Acara yang dimaksud adalah Diklat Jurnalistik Online Malhikdua, yang berlangsung cukup lancar selama 2 hari kemarin, 28-29 Maret 2009.

Lha koq capek. Jelaslah karena rapatnya dulu sampai panas, malam-malam di ruang guru tanpa kipas, antara mau cari sponsor atau minta Lembaga. Maklum saja kondisi kas yang sangat pas-pasan. Belum lagi koordinasi yang cukup rumit, terutama soal pilihan waktu yang harus pas juga. Menyesuaikan sana menyesuaikan sini. Sudah gitu ternyata satu person berhalangan. Koordinasinya juga tak mulus-mulus amat, hanya sekali ketemu darat di Blok M dengan calon tutor, berikutnya via fesbuk, email, dan chatting. Entah sudah berapa pula pulsa yang habis untuk sms dan call.

Kemudian rasa cemas yang tiba-tiba saja menghantui, soal bagaimana perjalanan para Tutor. Yang satu berangkat dari Surabaya, satunya dari Jakarta. Semuanya putri dan seorang dari. Itu sebabnya mengapa saya sampai bikin postingan bertajuk Bumiayu Kelabasan, tentu biar yang berangkat dari jakarta tidak kebablasanseperti saya.

Sayangnya posting tinggal posting, karena Ajenk kebablasan juga.

Foto peserta Diklat Jurnalistik Online Malhikdua

Wajah-wajah riang calon Jurnalis Muda Malhikdua

Lantas bagaimana kepuasannya?

Ya, lihat saja foto diatas. Seluruh peserta berhasil mengikuti dengan semangat dan selalu tampak riang. Tentu ini sangat memuaskan bukan. Phel-phel sendiri merasa salut dengan antusiasnya mereka. Cerdas-cerdas katanya. (kataku seh cantik-cantik). Tentang jalannya acara tidak saya kupas satu persatu. Saya yakin masing-masing peserta akan memposting pengalaman Diklatnya kemarin, mengingat hampir semuanya blogger. Ditunggu saja.

Kepuasan berlanjut usai acara setelah melihat inisiatif Bunda Nunk dalam mengantar kepergian saya dan tutor. Benar-benar tak terbayangkan sebelumnya. Dengan naik mobil baru APV Arena para kruchild mengantar kepulangan kami. Begitu riang gembira. Tak henti-hentinya mereka bernyanyi sepanjang jalan Bumiayu-Purwokerto . Sesekali meledeki temannya yang lain, kemudian ganti diledeki, dan seterusnya. Ita-ul kerap jadi giliran diledek akibat suara merdunya sering beradu dengan radio mobil.  (mengantar saya pergi koq pada riang ya ... )

Kepuasan kemudian adalah berhasilnya kopdar dengan Mas Endar, blogger merangkap plurker Purwokerto, setelah sekian lama kotanya kerap terlewati oleh kereta yang saya tumpangi. Saya dijemput langsung mas Endar untuk diajak ke rumah, kurang lebih jam 10 an malam, sesaat setelah kereta Bima yang membawa Phel-phel pergi.

The next..puas, puas, dan puas. Dari koneksi Internet yang lancar sampai kasur Mas Endar yang cukup nikmat. ()

Foto-foto Panitia bersama Tutor:

Panitia sedang mengantar Tutor ke stasiun Purwokerto

Panitia sedang mengantar Tutor ke stasiun Purwokerto

Akhirnya datang juga. Mas Endar di posisi paling belakang

Akhirnya datang juga. Mas Endar di posisi paling belakang

Foto sesaat sebelum kepulangan Tutor ke Surabaya

Foto sesaat sebelum kepulangan Tutor ke Surabaya

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

39 comments on “Diklat Jurnalistik, antara Capek dan Puas”

  1. Mansteb tenan.. (applause)
    Jadi pengen ke bumiayu *stlh lihat foto paling atas*
    Kapan aku diajak ke sana Mas?

    Maju terus, pantang mundur!
    Terus berkarya, blogger2 muda harapan bangsa.

  2. lha endingnya ketemu plurker juga? waks! si pecel??? wakakakkakakak!!!

    diklat partisipatoris emang asik, asik dipeserta lancar di mentoringnya sip sip sip

  3. luar biasa pak.. selangkah lebih maju lagi. Salut untuk acaranya. Mudah-mudahan mendapat yang terbaik.

    novi : terima kasih doanya dan terima kasih pula atas kunjungannya.

  4. wkakakak... kasure endar sing paling mengesankan yo? penat seperti amblas...
    aku turu thok, tangi2 wes krian.. hehe

    novi: lah iyo sepur larang. nek aku turu tangi turu tangi. rasane gak tekan-tekan ha ha ha ha

  5. gak da foto peserta cowo kurang seru....!!!

    novi : kucukupkan rasa syukurku. kalau ditambah foto cowok nanti ada yg bilang tamak 😀

  6. wow....hebat!
    blogger harus bisa memberikan sumbangan buat negara toh?

    novi: ada yg bilang blogger tentu sudah nasionalis karena sesungguhnya seorang bloger sedang berupaya untuk membangun sebuah kebersamaan dan sikap komunal di dunia maya agar sanggup menyampaikan pesan-pesan personalnya kepada publik. Selain itu, seorang bloger juga mustahil melakukan korupsi bahasa, meski ia terus bergulat dengan berbagai ragam dan gaya ucapnya. Bahkan, dalam soal pemakaian bahasa, bloger termasuk sosok yang paling dermawan.
    saya kutip dari blognya pak sawali http://www.sawali.info

  7. wah, salut dg perjuangan mas novi yang tak pernah lelah memperkenalkan dunia IT di pondok pesantren. memang capek, mas, tapi insyaallah dg niat yang tulus dan kesabaran tingkat tinggi, rasa capek itu akan menghasilkan genersi pesantren yang cerdas spiritual sekaligus juga akrab dg dunia ICT. maju terus mas novi. semangat!!!

    novi: terima kasih dukungannya. pak sawali

  8. pinteran......potonya di pajang yang ga da fotonya aku .... awas ja ni ......
    saya rasa kurang puas deh karena ga ikut makan soto kecik ..... hue hue hue ....

    novi: dirimu sengaja kusimpan untuk doorprize nanti 😀

  9. yah...curang.koQ Q-ta gak diajak buat nganterin..?Qta kan juga pengin naik mobil baru, pengen jalan2...?Oya, thanks dech dah mo nampilin foto2 Q-te.Beruntung banget fotonya nampang di Blog orang terkenal.Maaf, bagi putra(anda kurang beruntung, silakan mencoba dilain waktu)Sabar yach Mr.Oef....!

    novi : maunya rame2 tapi pasti kalian gak diijinin. kapan2 dech aku ajak

  10. wah, bar kang Purwokerto ya.
    Kl kesana lagi, ngabar-i ya...

    jd pengen melu diklate... (evil_grin)

    novi : memang purwokerto juga? nanti saya kabari. tapi untuk jadi tutornya loh 😀

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paruh Baya

Aktif di kegiatan tulis menulis dan membaca sejak kelas 1 SD kala sang Guru dengan lantang memanggil. Lantas berdiri ke depan, menghadap papan tulis hitam. Dengan tatapan kosong, keringat dingin, tangan penuh gemetar, memegang penggaris panjang, hingga mengeja satu demi satu susunan huruf. "Ini ibu budi"

Ternyata "bapak budi"
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram