(062) 999-88881212
support(-di-)m2net.asia

12 Mei 2009

Bangunan Stren Kali Pantas digusur?

Sudah dua minggu ini Surabaya diramaikan dengan ritual kota penggusuran.  Kali ini yang jadi target adalah stren kali Jagir. Jika 2 minggu sebelumnya bagian selatan jagir, mulai dari Bendungan Wonokromo sampai Jembatan Nginden, maka siang tadi giliran bagian Utara yang ketiban apesnya.

Tema terkait stren kali berujung menjadi ngetrend dibicarakan dimana-mana, tak terkecuali dengan saya and the gank. Dalam cangkrukan yang menjadi khas orang kecil macam kami didapat kesimpulan yang cukup menarik, bahwa bangunan diatas stren kali layak digusur. Analisanya diperoleh dengan ajakan flashback ke belakang dan proyeksi ke depan

Sentot, salah satu peserta 'forum' mengajak semuanya menarik garis tahun ke belakang. Taruhlah 5 tahun lalu, banyak orang sudah mendirikan bangunan permanen disepanjang bantaran kali Jagir, full booked. Padahal, kalau semakin mundur kebelakang, 10 tahun. Bangunan yang ada hanyalah bangunan kecil non permanen milik penjual perlengkapan pancing yang letaknya didepan kantor pajak. Dari sini kita kembalikan menjadi proyeksi 10 tahun kedapan, atau gak usah jauh-jauh 1-2 tahun mendatang, bisa dipastikan lebar kali jagir berkurang signifikan. Kita jelas tahu apa yang menjadi akibat jika daya tampung aliran tak selancar biasanya.

"Kenapa tahun-tahun mendatang efek buruk itu bakal terjadi.." Lanjutnya dengan mata menerawang. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"Lihat bangunan sekarang (sebelum digusur -red)âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚, Sudah banyak yang bertingkat. Orang juga tak segan-segan dan begitu mudahnya mendirikan tiang-tiang diatas kali. Ini bisa menjadi prospek bagi pemilik yang ingin mendirikan bangunan baru diatasnya untuk dijual ke pemilik baru. Demikian secara estafet berlangsung seterusnya, karena pemilik ini dalam tanda petik" Kata Sentot sambil mengapitkan 2 jarinya.

âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"Jangan lupa pula faktor perilaku orang tepi sungai. Buang sampah disungai tidak mungkin dicegah. Sudah otomatis wajib dilakukan. Setiap rumah pasti ingin bersih dari sampah, walau mereka sudah membayar iuran tetap saja sampah itu jarang diangkut. Kebanyakan orang penganggkut sampah kesulitan atau mungkin malas mengambil sampah di jalanan yang kecil, sempit dan cenderung kumuh.

âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"Jika anda gak percaya, coba ingat bangunan sepanjang kali tersebut, adakah tong sampah didepan rumah. Bisa dihitung jari.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Tegasnya kemudian. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"padahal setiap rumah selalu ada aktivitas memasak. Orang-orang dibantaran tersebut sudah pasti membuangnya ke sungai, karena sudah jadi kebiasaan. Kebiasaan ini diperparah jika hujan deras dan air mengalir kencan, penghuni rumah selalu mengambil kesempatan ini untuk membersihkan âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“viewâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ disekitar rumahnya dengan membereskan sampah-sampah itu langsung ke sungai, melihatnya hanyut, dan terbawa mengalir jauh. Selanjutnya mereka lega. Bagaimanapun sampah-sampah bikin mereka sumpek melihatnya.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚

Kawan saya ini semakin menerawang, seperti ke masa silam. Saya dan teman-teman lain tak bisa membantahnya karena dia sendiri sudah puluhan tahun tinggal di stren kali. Satu hal yang pernah saya catat dulu adalah kebiasaan dia membuang kotoran-kotoran dirumah langsung ke sungai, tanpa malu-malu karena tetangga kanan kiri juga melakukan hal serupa.

Namanya juga cangkrukan, tentu jiwa sebagian dari kami adalah membela orang-orang kecil di tepian kali tersebut. Saat hal itu saya sentuhkan, kawan saya ini membantah, lagi-lagi mengajak kami semua untuk mengingatnya. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"Biasa media selalu menanamkan opini yang belum tentu seimbang. Coba lihat berapa persen orang kecil disana. Hampir semua bangunan disepanjang kali tersebut adalah pengusaha-pengusaha. Dari penjual kayu, besi tua, hingga showroom mebel.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Kata sentot tadi. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…"Yang diwawancarai di TV Cuma tukang becak dan pemulung, coba sesekali mereka wawancara bisnismen-bisnismen itu, atau wak kaji-wak kaji yang sampai sukses membangun bangunan 2 tingkat, atau yang sampai melebarkan luasnya hingga menyerobot aliran kali. âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’…" Sambung sentot berapi-api.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚ Jangan lupa pula, orang-orang kaya itu juga menjadikan bangunan ditepi sungai menjadi lahan bisnis.âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‚

Semakin panas, dialog tak kami lanjutkan karena pada saatnya juga jam harus menyuruh kami bekerja lagi. Seratus persen saya pribadi membenarkan pula akhirnya, karena jika dipikir-pikir kasus penggusuran bangunan stren kali tidak bisa disamakan dengan penggusuran lapak-lapak PKL di tepi jalan raya. Tampaknya ritual ini benar-benar menjadi ujian bagi walikota, ada dilema dari relokasi warga disana. Di satu sisi Rumah Susun yang disiapkan belum rampung. Di sisi yang lain, bangunan di sepanjang stren semakin menjamur, semakin menyisakan sedikit ruang untuk aliran. Rasa-rasanya bisnismen-bisnismen itu sebenarnya mampu untuk pindah tanpa melemparkan masalah pada rumah susun.

Ya, seringkali kita tertipu dengan teks âââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’‹Å“orang kecilâââ€Å¡¬ÃƒÆ’ƒÆ’¢ÃƒÆ’ƒÂ¢Ã¢â€šÂ¬Ã…¾¢ dan turut menjualnya dengan propaganda idealis-idealis tingkat tinggi. Hendaknya kita berhati-hati sampai dengar tuntas masalahnya. ()

Foto diambil dari :

http://www.jawapos.com
http://www.detik.com

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

28 comments on “Bangunan Stren Kali Pantas digusur?”

  1. hal seperti ini dilematis mas. harusnya pemkot sudah melarang mereka sejak dulu kala sebelum menjadi koloni besar.

    kalo sudah seperti sekarang ini maka butuh cost yang besar, tidak hanya uang, tapi juga ekses sosial.

    dalam hal ini PLN dan TELKOM harus ikut bertanggungjawab karena sebelumnya mereka mengeruk untuk dari jualan listrik dan telepon ke mereka.

    jangan digusur begitu saja. harus ada solusi yang enak bagi semua pihak..

    novi : benar, saya juga sependapat. yang jadi korban harus semua pihak.

  2. dari dulu tata kota selalu menjadi permasalahan di akhir, padahal pihak2 yg berwenang dan pihak yg terkait tau tindakan preventif dan penanganannya. Harusnya kalo ada kasus penggusurun ini pihak2 berwenang lebih objektif, jgn hanya maen gusur tapi mereka2 yg dulu membiarkan bahkan bermain di daerah abu2 itu juga harus di usut. Mereka yg menarik pajak, mereka yg mengeluarkan surat2 yg harusnya gak bisa keluar.

    novi : tepat mbah, kawan saya yang lain,sinyo namanya, yang kebetulan juga pernah tinggal di stren kali, orang tuanya membeli tanah tersebut di Kantor Kelurahan. Aneh...

  3. Harusnya selain digusur mereka juga ditagih uang sewa selama menempati tanpa ijin
    cuma sewanya dihapus saja....
    Memang susah yaa jadi Walikota, tapi yang ndaftar selalau banyak
    ketegasan dan konsistensi perlu dijaga

  4. saya sepakat sama mbahsangkil...
    PR besar bagi yang berada di desa... "sebelum desa menjadi kota", seharusnya masterplan benar-benar dirancang, diperhitungkan, dan ditaati agar tidak terjadi penyimpangan peruntukan lahan.

  5. bener-bener sangat ironis

    di satu sisi tindakan yang dilakukan pemkot juga bisa dibilang baik,dalam rangka mempercantik kawasan stren kali.
    di satu sisi yang lain para warga yg sebagian besar wong cilik harus rela kehilangan tempat tinggal.

    ahhh
    semoga ada langkah untuk merelokasi mereka

  6. susah juga memang ada niatan baik dari pemkot tapi mungkin jalanya yang kurang baik...inilah PR besar buat Pemerintah untuk segera mencari solusi yang terbaik baik baik.....

  7. Bener-bener bag buah semalakama... menjadi dilema... kalo gak digusur itu juga merusak pemandangan dan tata kota, kalo di gsur juga rame... hmmm

    novi : sebenarnya bukan soal pemandangan yang jadi masalah utama, tapi soal dampak banjir yang bisa diproyeksikan dari berdirinya bangunan di stren tersebut.

  8. hmmm .... penggusuran? kata2 ini selalu muncul di sebuah negeri yangf tengah berkembang, menunjukkan potret betapa beratnya beban sosial yang mesti ditanggung. mereka yang memanfaatkan lahan di tepian sungai semacam itu lantaran mereka sdh ndak punya tanah dan tempat usaha di tempat yang layak huni. seharusnya nasib mereka perlu mendapat perhatian yang layak dari pemerintah sesuai amanat UU. kalau mereka digusur, seharusnya pemerintah menyediakan lahan yang tepat utk menampung dan menghidupi mereka. bukannya asal main gusur tanpa bisa memberikan solusi.

    novi : lahan sudah disediakan, yakni rusun. tapi prosesnya tampak masih berbelit

  9. Bro...bagaimanapun juga....Humanity (Kemanusiaan) harus lebih tinggi daripada Beauty (Keindahan)....Taman kota,keindahan kota, atau apapun itu....tidak lebih penting daripada kelangsungan kehidupan,tempat tinggal, mata pencaharian manusia itu sendiri. Apa manfaatnya kota yang indah tapi banyak warganya yang kehilangan kehidupan.....

    novi : maaf, bukan maksud saya tidak memperdulikan kemanusiaan. Saya mengupas dari segi dampak banjir, sampah, dll yang pasti mengancam. bukan karena demi keindahan. Demi humanity bukan berarti membiarkan mereka bukan. Semoga pemerintah memberikan tempat yang semestinya.

  10. gusur ae,ngresek2i suroboyo wong akeh2e duduk warga suroboyo,opo maneh juragan2 rombeng,lek buak barang rongsokan sing gak payu didol dibuak nang kali sak enake dewe,mataku ero dewe soale aku sering mancing nang jagir,opo maneh stren kali sisih lor sebelahe PDAM digawe komplek pelacuran pindahane stasiun wonokromo

  11. Setuju untuk novi, saya warga bratang,saya tahu sendiri terakhir kali sekitar bulan pebruari kali jagir saat pasang airnya merembes ke jalan barata jaya melalui sela2 rumah pemulung stren kali barata jaya depan pompa pembuangan air,saya takut situ gintung jilid dua akan terjadi di surabaya

  12. Untuk teman2 yg anti penggusuran,tolong untuk meluangkan waktu mengamati kondisi ( NASIB ) kali jagir yg sudah merana akibat ulah warga stren kali yg tak bertanggung jawab, saya tinggal dibratang saat masih kecil,skarng saya punya 2 anak , 30 tahun lebih saya tinggal di bratang,saya tahu persis kondisi stren dari dulu hingga kini yg merana.., ooohh..! tempat bermainku sedari kecil.., kini tubuhmu penuh luka dicederai, pohon yg rimbun telah gundul, diganti barang romgsokan yg berjibun, haruskah aku mengadu kepada " GREEN PEACE " KARENA KONSEP JOGO KALI HANYALAH OMONG KOSONG

  13. Khusushon buat cak EMHA AINUN NAJIB sing ero sak jeroning winarah dan mbak wardah yg sok sosial, apakah anda pernah berpikir bahwa stren kali yg dihuni hanya ribuan orang apabila jebol sejengkal saja dapat mengakibatkan ratusan ribu warga sekitarnya yg dibawah stren kali hidup terlantar karena kebanjiran, sedangkan warga stren kali kali yg telah merusak tanggul pembatas tidak terkena dampaknya karena mereka tinggal diatas tanggul ( DAN BERBAHAGIALAH ORANG ORANG YG TELAH MERUSAK TANGGUL, KARENA MELALUI TANGAN MEREKA SEHINGGA ALLAH MURKA...! DENGAN MEDATANGKAN AIR BAH YG TAK BERKESUDAHAN. DAN SESUNGGUHNYA SEBAIK BAIK ORANG ADALAH ORANG YG MAU BERPIKIR ) selamat berpikir cak dan mbak

  14. @ bapake joseph: sepakat pak dgn pemikirannya, jangan sampe kita jadi manusia tapi nggak tau dimana sisi kemanusiaannya. warga stren yg digusur itu adalah korban tp masih tetap aja disalahkan. harusnya kita nggak perlu melakukan 'blame the victim' dgn berbagai macam komentar yg semakin membuat mereka tersudut.

  15. Berbicara tentang kemanusiaan: bagaimana kalau terjadi banjir dibratang gede & barata jaya akibat luberan (rembesan) kali jagir ,berapa jumlah warga yg mendrita akibat ulah warga stren yg tak bertanggung jawab,apakah perbuatan mereka lebih manusiawi, tolong luangkan waktu untuk mengamati kali jagir sampai benar benar paham keadaan kali jagir saat ini, khusus untuk stren kali sebelah PDAM

  16. jangan lah kita saling mengumpat dan ber ingin merasa paling benar,ayo kita brfikir lebih rasional. saran saya untuk pak wali kota: alangkah baik nya bapak mengajak warga ber dialok dan mengikut sertakan para aq lipengairan dan perairan dan menjunjung tinggi asas kemanusiaan insha'allah akan mendapatkan jalan penyelesaian yang baik bagi semu8a fihak. (AMIN..........)

  17. Aneh juga sih...pada saat pemerintah menertibkan stren kali, yg banyak bersuara adalah LSM yg membela kemiskinan, tapi LSM yg membela lingkungan hidup kenapa justru diam saja....mestinya ada suara juga dari mereka tentang perlu tidaknya lingkungan hidup di stren kali dijaga, plus dampak-dampaknya....kan kemiskinan dan lingkungan hidup juga bagian dari kemanusiaan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paruh Baya

Aktif di kegiatan tulis menulis dan membaca sejak kelas 1 SD kala sang Guru dengan lantang memanggil. Lantas berdiri ke depan, menghadap papan tulis hitam. Dengan tatapan kosong, keringat dingin, tangan penuh gemetar, memegang penggaris panjang, hingga mengeja satu demi satu susunan huruf. "Ini ibu budi"

Ternyata "bapak budi"
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram