(062) 999-88881212
support(-di-)m2net.asia

29 November 2010

Terbaik diantara yang terbaik

Beberapa hari lalu 4 peserta terbaik sudah saya umumkan, sekarang gilirannya menentukan siapakah 2 peserta terbaik diantaranya. Dua calon reporter yang benar-benar the best.

Sungguh, bukan perkara yang mudah menetapkannya. Sampai-sampai saya harus bolak-balik membaca hasil liputan mereka. Menyesal hati ini hanya menyediakan 2 hadiah, andai ada 4 hadiah tentu saya akan beri semuanya. Tak lain tak bukan karena 4 anak tersebut memang terbaik, bukan sekedar memenuhi kualifikasi saja.

Tapi namanya juga kontes, tentu harus ada pemenang diantara terbaik. Untuk kesekian kalinya saya harus kembali membaca, membandingkan antar reportase mereka. Membolak-balik lembar mereka. Sampai jatuhlah hati ... Eh mata saya pada nama Ainun Habibah..

Ya! Sdri, Habibah (semoga demikian panggilannya). Sangat bagus dalam membuat breaking news. Ada dua judul yang ia suguhkan. Tekniknya sudah benar, termasuk juga struktur, memenuhi konsep piramida terbalik. Tapi, judul "Antusias Peserta Pembekalan" sangat janggal menurutku. Seperti terputus sehingga tak kena sasaran, pun juga karena kurang tajam. Andai ia meneruskan menjadi "Antusias Peserta Pembekalan Bikin Puas Tutor" atau mungkin "Antusias Peserta Pembekalan Singkirkan Agenda lain" sudah pasti saya menangkan. Tapi sayang, demi obyektivitas 'dewan juri', karena kesalahan judul ini maka lembar berlabel Ainun Habibah harus saya singkirkan. Maaf sekali lagi maaf...

Satu beban sudah berkurang. Tinggal berhadapan 3 lembar, punya Fasichotul Chasanah,  Annisa Ayu Intan Fitriani, dan Nikmatul Azizah. Satu nama didepan berjenis breaking news, sedang 2 nama terakhir mengusung gaya Feature. Siapakah kira-kira jawaranya? Ikuti terus blog ini.

Surabaya, 29 Nov 2010.

Postingan terkait sebelumnya:
Menentukan Pemenang Jurnalistik.

Facebook Comments

Leave a Reply

caknov

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Paruh Baya

Aktif di kegiatan tulis menulis dan membaca sejak kelas 1 SD kala sang Guru dengan lantang memanggil. Lantas berdiri ke depan, menghadap papan tulis hitam. Dengan tatapan kosong, keringat dingin, tangan penuh gemetar, memegang penggaris panjang, hingga mengeja satu demi satu susunan huruf. "Ini ibu budi"

Ternyata "bapak budi"
linkedin facebook pinterest youtube rss twitter instagram facebook-blank rss-blank linkedin-blank pinterest youtube twitter instagram